Ternyata Seni Tato Tertua Dunia, Ada di Mentawai

Category: Seni & Budaya 80 0

img_0454-1444748482

MENTAWAI, SUMBARTODAY – Seni merajah tubuh, tato, ternyata pertama kali dilakukan oleh nenek moyang orang Mentawai. Tato atau yang biasa disebut titi di Mentawai, diperkirakan ahli sudah ada sejak Zaman Logam 1500 SM-500 SM (Ady Rosa).

Dalam perjalanan saya ke beberapa Desa di Kepulauan Mentawai beberapa waktu yang lalu, salah satunya Desa Sagulubbeg, Kec Siberut Barat Daya, saya melihat beberapa orang masyarakat yang lalu lalang dengan badan penuh titi. Titi dapat terlihat jelas mulai dari muka sampai ke betis mereka. Konon dahulunya nenek moyang orang Mentawai menjadikan titi sebagi media dokumentasi dan simbol status sosial di tengah-tengah masyarakat..

Motif pada titi akan menentukan seseorang itu berprofesi sebagai Pemburu atau Sikerei (medis tradisional). Motif binatang akan banyak ditemukan pada titi yang kesehariannya adalah pemburu. Pembuat titi di namakan Sipatiti, pastinya semua bahan dan alat untuk pembutan titi bersumber dari alam. Saat ini memang tidak akan banyak lagi kita temukan titi melekat pada tubuh pada masyarakat Mentawai, budaya titi mulai ditinggalkan sejak adanya kewajiban untuk memeluk salah satau agama resmi yang diakui oleh Negara, serta adanya kebijakan oleh pemerintah pada era Presiden Soekarno, tepatnya saat dikeluarkan kebijakan melalui SK No.167/PROMOSI/1954 yang memerintahkan Suku Mentawai meninggalkan tradisi tato dan kepercayaan mereka.

Hal tersebut sungguh sangat disayangkan menurut Ady Rosa, dosen Seni Rupa Universitas Negeri Padang yang telah lebih dari 10 tahun meneliti tato menyimpulkan bahwa tato Mentawai adalah seni rajah tubuh yang tertua di dunia. Berdasarkan penelitian yang ia lakukan, Ady menemukan bahwa tato Mentawai bahkan lebih tua usianya daripada tato Mesir. Encyclopaedia Britannica mencatat bahwa tato tertua ditemukan pada mumi di Mesir (1300 SM). Sementara, Suku Mentawai sudah menato badan mereka sejak kedatangan mereka ke pantai barat Sumatera pada Zaman Logam (1500 SM-500 SM).

Terlepas dari kontroversi akan hilangnya budaya titi pada masyarakat Mentawai, saya merasa cukup beruntung pernah melihat titi secara langsung. Sahabat, bagi yang penasaran ingin melihat titi secara langsung, silahkan atur jadwal liburan anda untuk ke Mentawai, suguhan budaya asli dan hamparan pantai pasir putih siap memanjakan mata. Malainge Mentawai! (Adi)

 

Related Articles

Add Comment