Tak Punya Pilihan, Am Pemukat Tradisional Harus Bersahabat dengan Laut

oleh

Padang, Sumbartoday.com
Nyanyian ombak pagi itu mengiringi lincahnya tarikan pukat di tepi laut Bungus Teluk Kabung Kota Padang. Semilir angin berhembus ke dinding-dinding perahu di tepi pantai. Beriringan dengan irama alam, beberapa nelayan mulai melakukan aktivitasnya melaut. Mereka bergegas, tak mau dikalahkan oleh sang waktu.

Dikenal sebagai kampung nelayan, sekitar 40 persen warga Bungus berprofesi sebagai nelayan. Bungus Teluk Kabung terletak di Kecamatan Bungus Teluk Kabung. Dari pusat kota Padang, butuh beberapa menit saja untuk berkendara ke sana.

Pantai Bungus yang berada di bibir Samudera Hindia ini selalu memberikan rezeki yang melimpah bagi nelayan setempat. Atraksi yang tersohor di Pantai Bungus adalah tarik pukat. Kegiatan ini menjadi aktivitas rutin para nelayan.

Tarik pukat merupakan cara menangkap ikan secara berkelompok dengan memakai jaring. Pada hari-hari biasa, kegiatan ini juga menyedot perhatian warga dari luar Bungus. Mereka berduyun-duyun datang ke pantai untuk melihat atraksi memukat tradisional tersebut dengan cara mundur kebelakang dengan melilitkan tali ke penarikan pukat yang di belitkan ke pinggang

Walaupun tarik pukat menjadi bagian dari destinasi wisata di Bungus, kehidupan para penarik pukatnya yakni nelayan kerap menyimpan kisah duka. Seperti yang dituturkan Ikam, salah seorang nelayan Bungus. Pria paruh baya ini telah mengabdikan sepertiga umurnya di laut.

Sebagai nelayan, lelaki yang akrab disapa Am ini mengaku kehidupannya sangat bergantung pada keramahan laut. Persoalan cuaca buruk membuat Am dan keluarganya harus rela menahan perut kosong seharian. Jika saya tidak melaut sehari saja, saya dan anak-anak saya tidak bisa makan,”katanya

Sejak kecil Am tertarik bekerja di laut. Ia merasa tak punya keahlian untuk bekerja selain di laut. Lagipula, ia tak berminat bekerja di darat. Menjadi nelayan hanya perlu kecerdikan dan tenaga saja,” ujarnya sembari menambal pukat yang robek. Karena itu, bangku sekolah tak ada dalam kamus hidup Am. Sejak kecil, ia sudah diperkenalkan dengan penghasilan yang bisa diraup oleh seorang nelayan.

Kawan-kawan saya banyak yang mencoba bekerja sebagai tukang bengkel, namun mereka balik lagi ke sini karena memang lebih enak jadi nelayan,”ungkapnya.

Melaut adalah pekerjaan yang menyenangkan bagi Am. Jika kondisi alam sedang bersahabat, ia kadang enggan kembali ke darat. Namun, jika kondisi alam memburuk, Am sesekali menyesal memilih pekerjaan itu. Kalau lagi angin kencang itu, saya ingin jadi pekerja bangunan saja,”imbuhnya

Tahun 80-an masa keemasan bagi Am, menangkap ikan sangat mudah saat itu. Cukup melempar pukat di bibir pantai, ikan-ikan pun terjebak ke dalam pukat.

Dulu, di bibir pantai ini saja sangat banyak ikan. Tapi sekarang saya dan kawan-kawan harus berlayar sejauh lima ratus mill lebih baru ada ikannya,”terangnya

Parahnya sekarang, setelah jauh-jauh berlayar selama berhari-hari, hasil yang didapatkan tak sebanding dengan cucuran keringat. Salah satu contoh pahitnya ketika musim lalu, Am dan kawan-kawannya hanya mendapat omzet Rp2 juta. Namun, dari jumlah ini ada jatah pemilik modal senilai Rp700 ribu. Sisanya, setelah dibagi lagi dengan rekan-rekannya, Am kebagian Rp100 ribu saja.

Tak hanya itu, kekecewaan Am muncul ketika hasil tangkapan ikan kurang memuaskan. Sebagian ikan berjenis tuna tak sesuai kilo, ikan-ikan itu seperti kena penyakit, mereka mengecil dari ukuran yang seharusnya. Hal itu yang membuat kami harus menjual murah ikan-ikan tangkapan kami,”tambahnya

Masalah penyakit ikan tersebut adalah limbah kapal-kapal besar yang bertengger di tengah laut. Am menyebutkan limbah tersebut dibuang dengan sengaja.

Ketika Am dan teman-temannya berjuang keras mencari nafkah di tengah laut, istri dan anak-anaknya dengan sabar menanti kepulangan sang ayah. Am memiliki enam anak tiga perempuan dan tiga lelaki. Ketiga puteranya mengikuti jejak sang ayah. Sejak umur 14 tahun ketiganya telah dibekali jala untuk menjaring ikan.

– Antoni efendi –

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *