Sungai Bukan Tong Sampah

oleh

SEPERTI  yang sama-sama kita ketahui bahwa sungai merupakan aliran air yang besar dan memanjang yang mengalir secara terus menerus dari hulu (sumber) menuju hilir (muara). Serta ada juga sungai yang terletak di bawah tanah yang disebut sebagai ”underground river”.

Di kota Padang sendiri, yang merupakan ibukota Propinsi Sumatera Barat yang terletak di pantai barat pulau Sumatera dan yang terdiri dari 11 kecamatan memiliki banyak sungai yaitu 5 sungai besar dan 16 sungai kecil, dengan sungai terpanjang yaitu Batang Kandis sepanjang 20 km.

Berbeda hal nya dengan daerah aliran sungai. Dalam hal ini daerah aliran sungai merupakan istilah yang merujuk pada suatu kawasan dimana air hujan, salju dan gletser mengalir menuju penampungan air seperti kali, sungai, danau dan rawa-rawa. Yang pada akhirnya penampungan air tersebut akan menyalurkan air ke tempat yang lebih rendah hingga mencapai laut.

Dalam ekosistem daerah aliran sungai terjadi interaksi antara unsur-unsur mahkluk hidup dan unsur fisik seperti interaksi antara vegetasi, tanah, air dan manusia. Interaksi tersebut menentukan erosi dan sedimentasi yang mempengaruhi aliran air.

Aliran air ini dapat terhalang dan menjadi tidak lancar karena adanya banyak erosi dan sedimentasi yang salah satunya disebabkan ulah manusia yang tidak bertanggungjawab yakni dengan membuang sampah ke sungai. Sampah-sampah tersebut didominasi sampah plastik seperti botol air kemasan, bungkus deterjen, kemasan makanan ringan, limbah rumah tangga dan bahkan juga limbah industri dialirkan ke sungai.

Sehingga tidak tertutup kemungkinan akan terjadinya lautan sampah disungai-sungai. Yang menyebabkan terjadinya pendangkalan pada sungai tersebut yang juga akan menyebabkan terjadinya banjir jika hujan turun tiada henti.

Seperti yang terjadi pada Rabu, 31 Mei 2017 lalu. Hujan turun tiada henti dari malam sampai besoknya lagi sehingga jalan raya dan komplek-komplek perumahan jadi terendam banjir. Banjir disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, drainase yang daya tampungnya terbatas dan juga dikarenakan penumpukan sampah di sungai-sungai.

Banjir terjadi di 24 titik di tujuh kecamatan yang salah satunya adalah Kecamatan Lubuk Begalung tepatnya di Kelurahan Pagambiran Ampalu dan sebanyak 285 orang di evakuasi. Ini adalah akibat dari sungai yang dijadikan tong sampah oleh masyarakat di sekitar daerah aliran sungai. Terutama sungai jirak yang hulu nya berada di Kelurahan Pagambiran Ampalu dan hilir nya berada di Kelurahan Pampangan.

Karena hal itu, maka timbul inisiatif untuk membentuk suatu komunitas masyarakat yang diberi nama dengan Komunitas Masyarakat Peduli Sungai yang dalam hal ini berpusat di Kecamatan Lubuk Begalung.

Kegiatan perdana Komunitas Masyarakat Peduli Sungai ini adalah mengadakan gotong royong bersama dengan masyarakat disekitar aliran sungai di dua kelurahan di kecamatan Lubuk Begalung tersebut.

Kegiatan bersih-bersih sungai ini dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat sekitar dan bekerjasama dengan Komunitas Masyarakat Peduli Sungai yang didukung oleh Pemerintah Kota Padang melalui dinas-dinas terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH), pemerintah Kecamatan Lubuk Begalung, LPM, Rw dan Rt serta Pemuda Pancasila setempat. Dan selain itu kegiatan ini juga bertepatan dengan peringatan Hari Air Dunia.

Dengan cara ini diharapkan sungai-sungai yang ada di Kota Padang umumnya dan di Kecamatan Lubuk Begalung khusus nya dapat terhindar dari pencemaran, baik oleh limbah rumah tangga maupun oleh limbah industri. Sungai adalah aset terindah dari sebuah daerah oleh karena itu mari lah kita bersama-sama menjaga kebersihan dan keindahannya agar kita terhindar dari bencana banjir dengan memegang teguh slogan “Sungai Bukan Tong Sampah”.*****

Liliwidya Dewi Asda, S.Pd 
Penulis adalah Mahasiswi Pasca Sarjana
Universitas Negeri Padang (UNP) dan Bendahara
di Komunitas Masyarakat Peduli Sungai (KMPS)
Kecamatan Lubuk Begalung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *