Spirit Kaum Feminis

oleh -299 views

Padang, Sumbartoday.com
Dengan penampilan yang mempesona dan senyumannya yang ramah seperti namanya yang ayu. Itulah sosok gambaran Dewi Ayu Trisna wanita yang lahir di Bukittinggi, 30 September 1969 ini berpandangan bahwa aspirasi dan kontribusi peran wanita mampu mengubah wajah dunia politik.

Wanita yang kini mencalonkan diri sebagai Anggota Legislatif DPR RI Periode 2019-2024 Dapil Sumatera Barat I dari Partai Perindo ini, memiliki pemikiran bahwa  peran dari perempuan tidak hanya dalam sektor domestik atau hanya identik dengan pekerjaan rumah saja. Melainkan, perempuan pun bisa dan harus mengembangkan bakat dan minatnya sesuai dengan potensi dirinya sendiri. Menurut Dewi, dalam ajaran Islam pun dijelaskan bahwa baik perempuan maupun laki-laki tuntutlah ilmu setinggi mungkin dan barang siapa yang menyebarkan amal baik maka akan mendapatkan pahala.

Disisi lain politikus wanita muda ini berpendapat, di Indonesia keterwakilan perempuan dalam ruang publik masih sangat rendah. Selain itu antara laki-laki dan perempuan mempunyai kepentingan yang berbeda satu sama lain, sehingga laki-laki tidak bisa mewakili kepentingan daripada perempuan.

“Dengan duduknya perempuan dalam posisi sebagai pengambil keputusan, maka aspirasi dan kepentingan perempuan dapat disalurkan, dan keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan diyakini mampu mengubah wajah politik agar lebih manusiawi, dan kembali pada misi awalnya untuk memperjuangkan kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan sosial”, tegas wanita yang berumah tangga dengan Ilham Mardanis ini.

Pemikiran-pemikirannya terhadap emansipasi wanita di dunia politik sangatlah lugas. Dirinya menjelaskan bahwa perjuangan feminisasi politik memang masih menghadapi jalan terjal. Tetapi itu tidaklah harus menyurutkan spirit kaum feminis untuk bergerak lebih maju, karena jalan terjal inilah yang akan membuka tabir dan titik terang untuk pencerahan kaum perempuan di masa depan. Dengan begitu akan terwujud pemerintahan yang baik seperti yang diharapkan oleh kita semua.

Ibu tiga anak ini mengatakan jika gender merupakan konstruksi sosial budaya relasi laki-laki dan perempuan. Relasi tersebut dibangun atas pemahaman peranan yang akan dimainkan oleh laki-laki dan perempuan di masyarakat. Sifatnya yang merupakan konstruksi sosial budaya, maka sangat kontekstual berdasarkan setting sosial budaya di suatu masyarakat. Sifat tersebut juga menyebabkan konstruksi gender dapat mengalami perubahan dan dapat dipertukarkan satu dengan yang lainnya.

Dirinya berharap, dengan masuknya peran serta perempuan dalam ranah politik bisa mencapai persamaan substantif di segala bidang kehidupan, menyelenggarakan upaya pemenuhan hak perempuan atas perlindungan kesehatan reproduksi, menghapus segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan, menghapus prasangka, kebiasaan dan praktik lainnya yang didasarkan atas inferioritas atau superioritas salah satu jenis kelamin atau berdasarkan peranan stereotip perempuan dan laki-laki.

Wanita dengan membaca ini juga mengajarkan bahwa perempuan harus berani mengambil inisiatif untuk menyatakan sikap. Jangan ragu untuk bertindak, sebab kelebihan perempuan adalah,peka terhadap situasi negatif dan tegas dalam meluruskan segala permasalahan berdasarkan kebaikan bersama. (Rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *