Razia Hotel Bintang, PHRI Sesalkan Arogansi Satpol PP Padang

oleh -5.454 views
Ketua PHRI Sumbar, Ir. H. Maulana Yusran, MBA, MSc

Padang, Sumbartoday.com
Terkait razia disalah satu hotel bintang satu dikawasan Jalan Purus II, Kecamatan Padang Barat, pada Sabtu (16/3) dini hari, oleh satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Padang, dinilai arogan oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Provinsi Sumatera Barat.

Menurut PHRI razia pada hotel berbintang tentunya tidak sama dengan razia pada hotel-hotel melati, apalagi tindakan merazia tersebut diduga kuat tidak melalui Standar Operasional Prosedur (SOP) yang sebenarnya.

“Hotel Mervit yang dirazia tersebut merupakan hotel bintang satu dan member yang terdaftar syah di PHRI Provinisi Sumbar, Jadi apa yang dilakukan oleh Satpol PP terhadap member kami tersebut tentunya tidak dapat dibenarkan karena kita sudah memiliki kesepakatan bersama dengan pihak pemerintah Kota Padang, tentang penyelenggaraan pengamanan, ketertiban dan kebersihan untuk meningkatkan penerimaan daerah dan mendukung pariwisata kota padang,” tegas Maulana Yusran, Ketua PHRI Sumatera Barat, saat ditemui sumbartoday.com, Senin (18/3)

Ia juga menilai bahwa cara-cara razia yang dilakukan Satpol PP Kota Padang tersebut bukanlah barang baru dan sudah merupakan lagu lama yang sering diputar ulang.

“Kita sepakat dan sangat mendukung pemberantasan maksiat dan prostitusi, namun perlu kita pahami bahwa bisnis hotel tersebut juga memiliki aturan yang tidak berdiri sendiri  dan tetap mengacu pada aturan pemerintah daerah, termasuk mendukung program-program yang dicanangkan pemerintah seperti meningkatkan pariwisata sehingga ujungnya tentulah masalah kenyamanan pengunjung yang menjadi  utama, namun tidak mengabaikan aturan hukum yang berlaku. Jadi terkait razia satpol PP yang setiap pergantian pimpinan selalu menjadi cerita klasik, harusnya memahami betul tata kelola aturan, tidak memperlihatkan arogansi, dengan menegaskan bahwa dirinya kasat Pol PP jadi tidak perlu lagi surat perintah tugas, tentunya pimpinan tersebut tidak pemahaman administrasinya negara, memangnya Satpol PP miliki dia sendiri,” tegasnya

Maulana juga menjelaskan bahwa didalam SOP Satpol PP tersebut juga sudah dijelaskan harus membawa surat perintah tugas saat razia dilakukan, sehingga jelas apa yang menjadi sasaran razia.

“Dengan adanya surat perintah tugas dapat dilihat apakah razia ini menyasar pada Kartu Tanda Penduduk (KTP), prostitusi atau razia yang lainnya. Jadi jangan yang dirazia prostitusinya tapi yang diperiksa KTP, seperti serabutan saja. Dalam kasus Hotel Mervit, saya melihat jelas banyak tindakan yang tidak sesuai dan itu terekam dalam CCTV yang diserahkan kepada kami, datang bergerombolan seperti penyerangan saja, tidak memiliki surat perintah tugas lagi, katanya razia gabungan, namun tata kelolanya tidak jelas, siapa yang merazia, dan yang bergabung ini apa saja tugasnya, jadi harus jelas semuanya. Setiap pintu kamar digedor paksa, pas terbuka semua masuk dan merekam kejadian, merokok dimana-mana dan tidak menghargai pengelola hotel tersebut. Aturan dari mana itu membongkar semua kamar seperti mencari teroris,” sambungnya.

“Hebatnya lagi salah satu anggota satpol PP masuk kamar tiba-tiba mengambil air mineral tanpa diketahui pihak hotel, nah tindakan apa namanya, maling atau tidak. Jadi semua tindakan yang ditidak wajar tersebut ada jejak digitalnya, dan ini akan kami laporkan kepada walikota, agar dapat ditindak lanjuti, kapan perlu pihak satpol PP harus meminta maaf,”  terangnya.

“Kalau mereka paham aturan harusnya sebelum masuk mereka cari apakah hotel bintangnya sudah disertifikasi dan cari apakah benar-benar sudah disertifikasi dan hotel saat ini tidak ada lagi izin ganguan yang ada hanya TDUP. Sangat disayangkan mereka tidak paham akan aturan sehingga merusak tatanan yang udah diatur oleh walikota. Membangun destinasi itu bukan hal mudah, sementara apartur itu sendiri yang merusaknya dengan dalil memberantas prostitusi. Bukan berarti kita tidak boleh dirazia, silahkan saja dirazia asal sesuai peraturan dan tidak mengganggu kenyamanan tamu yang ada,” tutupnya.

– Ricky Ridwan –

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *