Pasca Penyegelan PT. Bakapindo, Ini yang dirasakan Masyarakat Sekitar

oleh

Agam, Sumbartoday.com
Pasca penyegelan PT. Bakapindo oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Sumatera Barat beberapa waktu lalu, mulai dirasakan ratusan masyarakat yang menggantungkan hidupnya sebagai pekerja diperusahaan tersebut.

Menurut Kasman (35) salah seorang pekerja tambang yang ditemui sumbartoday.com,menjelaskan kepedihannya, bahwa sejak tidak lagi bekerja pada PT. Bakapindo, perekonomian keluarganya mulai morat marit.

Menurutnya penyegelan perusahaan tempat dirinya dan ratusan rekan-rakan lainnya bekerja, tentunya memupuskan harapan dirinya dan keluarga.

“Sudah 15 tahun saya bekerja di perusahaan ini, bahkan anak pertama saya menjadi sarjana dari hasil bekerja disini.  Tentunya harapan besar saya tumpukan kepada perusahaan ini, agar tetap beroperasi seperti sedia kala,” ucap Kasman kepada sumbartoday.com, Selasa (11/9)

Ia juga menjelaskan, sejak PT Bakapindo disegel dan dilarang beroperasi, dirinya seakan mati suri dan tidak memiliki harapan.

“Satu-satunya kemampuan saya hanya ditambang kapur ini, tidak ada sawah atau ladang yang saya garap. Perusahaan ini, merupakan mata air saya dan keluarga, serta banyak lagi masyarakat sekitar kampung ini yang menggantungkan harapannya kepada tambang ini. Namun jika perusahaan ini ditutup dalam waktu yang tidak jelas, tentunya mempengaruhi perekonomian kami, bisa jadi anak kam tidak bersekolah lagi. Untuk itu melalui media ini, kami mohon kepada pemerintah, kiranya dapat memberikan izin perusahaan ini untuk beroperasi kembali, agar mata air tadi dapat kami nikmati lagi,” jelasnya lirih.

Senada dengan Kasman, Nurdin (40) warga sekitar tambang juga merasakan dampaknya dari penutupan perusahaan PT. Bakapindo ini. Ia menjelaskan bahwa tidak saja ratusan masyarakat sekitar yang bekerja dan menggantungkan hidup dari perusahaan tersebut, namun juga berdampak kepada perekonomian masyarakat setempat.

“Banyak manfaat yang kami rasakan sejak perusahaan ini beroperasi, salah satunya dengan dilibatkannya kami dan anak kemenakan serta masyarakat sekitar  untuk bekerja diperusahaan ini. Jadi amatlah disayangkan, demi kepentingan segelintir orang, kami yang menjadi korban,” ucap Nurdin.

Sementara itu pihak PT. Bakapindo melalui Adrinal, Ketua Teknik Tambang (KTT) juga menjelaskan bahwa pihaknya dalam hal ini tidak dapat berbuat banyak. Sebab penyegelan perusahaan tersebut, tentunya menjadi kewenangan pemerintah.

“Tidak dapat kami hindari terhadap berhentinya operasional perusahaan, karena ini sudah menjadi keputusan pemerintah, namun sangat disayangkan bagaimana nasib ratusan karyawan kami yang nota bene juga warga disekitar sini. Kami sangat membutuhkan mereka, namun keadaanlah yang membuat mereka harus dirumahkan,” terang Adrinal saat ditemui sumbartoday.com, di kantor PT. Bakapindo, Rabu (11/9)

Adrinal juga menyampaikan rasa prihatinnya atas penyegelan PT. Bakapindo yang bermuara dengan turunnya perekonomian masyarakat setempat.

“Kita juga merasakan penderitaan mereka, namun merasakan saja tentunya bukan solusi, kami masih terus berupaya memberikan keyakinan kepada pemerintah, agar PT. Bakapindo dapat beroperasi kembali, sehingga ratusan masyarakat yang menggantungkan harapannya pada perusahaan ini, kembali mendapatkan masa depannya,” tutup Adrinal.

– Robbie Pratama –

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *