Menelaah Pendidikan Pada Kids Generasi Z

oleh

“Tak  Kenal Maka Tak Sayang, Tak Sayang Maka Tak Kenal.”, Peribahasa usang yang memiliki makna yang dalam dan hampir semua orang sudah pasti memahami maknanya secara mendalam . Pengetahuan guru tentang karakteristik serta sikap-sikap yang akan terjadi pada diri siswa setidaknya dapat membantu guru “Mencintai” anak, karena pada hakikatnya dasar pendidikan itu adalah mengasuh dan mencintai anak. Maka sudah sewajarnya guru mengetahui karakteristik anak didiknya.

Sebagaimana kita ketahui para ilmuan Generation Theory membagi generasi ini menjadi beberapa kelompok generasi diantaranya : Generasi Baby Boomer lahir 1946-1964, Generasi X lahir 1965-1980,  Generasi Y lahir 1981-1994, dan terakhir Generasi  Z.  Generasi Z? Siapakah itu? Mungkin masih banyak orang yang tidak paham dengan istilah generasi Z. Padahal istilah yang satu ini terbilang populer di bidang psikologi umum dan character building.

Generasi Z ini adalah generasi terkini yang lahir sesudah Tahun 1994. Ciri-ciri yang sangat menonjol dimiliki oleh anak-anak pada generasi Z ini diantaranya memiliki kemampuan tinggi dalam mengakses dan mengakomodasi informasi dalam teknologi yang serba canggih sehingga mereka mendapatkan kesempatan lebih banyak dan terbuka untuk mengembangkan dirinya.

Nah, yang menjadi pertanyaan untuk saat ini adalah upaya apa yang harus dialkukan orang tua dan guru agar anak generasi Z bisa mendapatkan pembelajaran yang tepat dalam menyiapkan era kepemimpinan mereka pada 18 tahun mendatang ? , proses pembelajaran seperti apa yang cocok untuk anak generasi Z ini ? dan  bagaimana seorang guru dalam mengatasi anak generasi Z ini ?

Pada Generasi Z anak-anak ditekankan untuk bisa belajar lebih giat agar pada masa yang akan datang dapat membangun generasi-generasi penerus bangsa. Menurut ramalan McKinsey, bahwa pada tahun itu Indonesia akan menempati posisi ke 7 ekonomi dunia, mengalahkan jerman dan inggris. Sehingga dalam Membimbing anak-anak generasi Z ini dalam belajar akan menjadi sebuah hal yang sulit jika kita masih menerapkan metode dan strategi pendidikan masa lalu, siswa cendrung tidak aktif melainkan berpusat pada guru saja, siswa hanya duduk manis di mejanya,  serta merangkum atau menuliskan tumpukan PR-PR dalam buku tulisnya.

Kita sebagai guru pada zaman now ini harus meninggalkan cara-cara lama agar kita sukses menghadapi masa depan. Yang terlebih penting untuk sekarang ini adalah kreatifitas seorang guru dalam menginovasi baik itu dalam mengajar anak-anak, materi yang disampaikan, metode yang digunakan, serta sikap dan perlakuan seorang guru terhadap siswa juga harus disesuaikan dengan karakteristik anak-anak generasi Z ini.

Anak generasi Z ini mempunyai konsep berpikir yang berbeda. Lingkungan yang mereka dapati bukan hanya pada alam nyata, akan tetapi juga pada alam maya. Mereka bersosialisasi secara virtual dan nyata, mereka menggali dan mendapatkan informasi dengan cepat dan actual. Dan mereka sangat senang apabila mengambil semua yang mereka anggap menyenangkan ke dalam kehidupan mereka. Disinilah peran orang tua dan guru dalam mengatasi anak generasi Z ini, untuk menjaga keseimbangan pengetahuan, sikap dan perasaan agar anak generasi Z ini tidak hanya memahami kehidupan maya saja tapi juga kehidupan nyata sehinggan orang tua dan guru menuntut suatu kerjasama dan saling menghargai satu sama lain.

Membiasakan  anak-anak berbaur dalam kebersamaan dengan keluaraga merupakan suatu upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah anak-anak generasi Z ini pada arah berpikir induvidualis. Karena mereka sering lalai dan terlalu asik menggunakan peralatan gadget atau teknologi informasi lainnya. Oleh karena itu guru harus menciptakan suasana hangat ketika di dalam kelas  sehingga anak menjadi pribadi yang peduli, dan senang bersosialisai dengan orang lain. Artinya guru harus bisa menjadi jembatan pengetahuan yang akurat dan berguna bagi anak didiknya kedepan.  Dan juga sebagai seorang guru dalam memanfaatkan dan mengoptimalkan teknologi menjadi sangat penting dan mendesak untuk memberikan layanan yang sesuai dengan keinginan anak-anak generasi Z ini. Sehingga anak-anak generasi Z ini dapat mendorong minatnya untuk belajar.

Pola pikir yang masih labil mampu menemukan ribuan hal-hal menarik lainnya di jagat virtual ini., baik itu positif maupun negative terhadap perkembangannya. Bimbingan secara intensif terhadap akses mereka didunia virtual ini wajib di pantau oleh guru maupun orang tuanya. Apabila kita lalai dan bersikap acuh tak acuh maka anak-anak kita akan thanyut terbawa derasnya arus globalisasi.

Tentu masih banyak hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam proses pendidikan anak generasi Z, yang intinya bermuara pada pelayanan pendidikan yang cocok dan tepat untuk memberdayakan dan membudayakan anak-anak generasi Z, di dalamnya membutuhkan kesadaran dan sikap arif dari para pendidik dalam menghadapi anak-anak generasi Z.

Penulis, Sophie Nanda Audina
Jurusan, Pendidikan Agama Islam
UIN IB Padang Semester V (Lima)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *