Korban Penyiksaan LP Muaro Padang, Akhirnya Divisum

Category: Hukrim 50 0
c3yeziees9
Ilustrasi (sumbartoday.com)

PADANG, SUMBARTODAY – Kamis (29/12/2016), sekitar pukul 12.00 WIB, korban penyiksaan di LP Muaro Padang akhirnya divisum. Tim kuasa hukum Wendra Rona Putra, Desvita Reni bersama anggota SPKT dan Reserse kriminal umum Polda Sumbar mendatangi Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klass IIA Muaro Padang sekitar pukul 10.00 WIB guna menjemput korban RM untuk divisum.

Pihak LP sempat menghalang-halangi proses dengan mengulur waktu pemanggilan korban untuk dibawa oleh tim Kepolisian ke RS Bayangkara. Kepala Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KP LP) Rio M. Sitorus terkesan menghalang-halagi upaya kuasa hukum untuk bertemu korban.

Yang bersangkutan tidak memperkenankan Tim Kuasa Hukum untuk masuk dengan alasan cukup kepolisian saja yang menemui korban.

“Kan sudah ada perwakilan dari Polda, yang pengacara silahkan tunggu di luar,” Ujarnya.

Setelah berdebat hampir 2 jam, tim kuasa hukum baru diijinkan masuk menemui Korban, tim kuasa hukum hanya sempat mengkonfirmasi kondisi korban setelah itu bersama Polda dan di bawah pengawalan salah seorang petugas LP, korban langsung dibawa ke RS Bayangkara untuk divisum.

Sesampainya di Rumah Sakit Bahayangkara, korban RM mendapatkan pemeriksaan medik dari dokter Resta guna mengidentifkasi sekaligus memverifikasi luka-luka fisik yang dialami oleh korban. Semula kondisi korban terlihat baik dari luar. Namun saat baju korban dilepas terlihat jelas bekas luka lebam yang membiru di bagian bahu dan lengan korban.

Kondisi tubuh korban terlihat membengkak yang apabila disentuh terasa sakit. Begitu juga bagian pergelangan tangan dan kaki korban. Pada saat diperiksa oleh dokter, korban mengaku bahwa luka-luka tersebut diakibatkan oleh benda tumpul seperti balok kayu dan besi pemukul lonceng, serta di beberapa kesempatan juga menggunakan alat strum. Setelah divisum selama lebih kurang 40 menit, akhirnya korban RM dibawa kembali ke LP dengan dikawal oleh tim polda sumbar dan petugas LP.

Kondisi korban saat ini masih merasa tertekan dan terintimidasi sehingga sulit bicara. Apalagi salah seorang oknum petugas LP tadi malam setelah kepergian kuasa hukum, menekan korban semalam agar korban mencabut pengaduan.

LBH Padang menyayangkan sikap KP LP yang masih berusaha menghalang-halangi kuasa hukum untuk menemui korban. Kemarin malam pihak LP menghalangi kuasa hukum dengan alasan jam besuk.

Mereka berkeras menyatakan adalah kewenangannya untuk mengizinkan atau tidak permintaan siapapun termasuk kuasa hukum untuk bertemu narapidana. Ini tentu tidak benar secara hukum dan moral karena penyiksaan adalah kejahatan yang kejam dan pelanggaran terhadap hak asasi yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. Hal ini jelas ditegaskan di dalam Pasal 28 I UUD RI 1945.(Romeo/SP.LBH Padang No. 25/S.Pers/LBH-PDG/XII/2016)

Related Articles

Add Comment

%d blogger menyukai ini: