Kayuh Sepeda Belasan Kilometer, Ternyata Zairul Ini…..

oleh

Painan, Sumbartoday.com
Raut wajahnya menyiratkan perjuangan hidup yang begitu hebat. Mata sayu serta kondisi fisik yang ringkih tidak sedikitpun menjadikan ia menyerah pada beban kehidupan dijalani setiap hari, namun dengan tekad kuat pantang menyerah dan selalu bersyukur itulah tiang dari kesuksesan.

Sebelum dituangkan kisah hidup Zairul tersebut ada baiknya kita mengenal dulu siapa sosok bapak yang tangguh ini, Zairul lahir pada tanggal 6 Oktober 1955 di Kapuah Koto Sabaleh Kecamatan Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan, dengan mempunyai istri bernama Maiza panggilannya, Zairul dikaruniai delapan orang anak, empat orang anak sudah menikah. Ada sebagian ikut suaminya masing-masing dan sebagian lagi tinggal satu rumah dengan Zairul. Sedangkan dua anak zairul sudah tiga tahun yang lewat telah di panggil oleh sang illahi (Almarhum), yang dua lagi masih sekolah di salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Tarusan.

Zairul sapu, begitulah panggilan akrabnya. Di usia yang menginjak kepala enam, ia adalah sosok suami dan ayah yang bertanggung jawab, sedangkan istrinya sendiri selalu menemaninya suka maupun duka dan selalu berjuang bersama, saling berbagi dalam bingkai kesederhanaan hidup yang harmonis.

Zairul berpenampilan sederhana ini, mengenakan jacket warnah biru langit dengan topi hijau tua yang hampir memudar yang selalu menutupi kepalanya dari terik matahari yang panas, sedangkan sepasang telapak kaki rentanya hanya dibalut dengan sandal jepit usang tanpa merk. Setiap hari ia selalu terlihat bersama sepedah tua berwarna hitam dengan dua roda jari-jari sepeda yang sudah berkarat sebagai penompang hidup keluarga. Sisi kanan dan kiri sepedah dibuat agak tinggi sehingga memungkinkan digantung sapu-sapu lidih, sedangkan di stang tempat gantungan botol minum yang di ikat dengan karet bekas.

Di pagi hari aktifitas berkeliling Zairul dimulai dari rumahnya dengan mengayuh sepeda tua sambil menggerak-gerikkan lonceng kecil yang ada di bagian kanan pegangan stang.

“Krincing,krincing (bunyi lonceng) Pu,,sapu..”, begitu khas suaranya saat menjajakan dagangan. Wajahnya terlihat sumringah walau kerutan-kerutan disekitar dahi tampak jelas terlihat di makan usia. Semangat juang juga begitu terasa disetiap kayuhan kaki Zairul,  bahkan itu berlanjut hingga siang hari masih saja ia berkeliling disepanjang jalan sampai menuju Kota Painan.

Sesekali ia hentikan sepedah untuk beristirahat melemaskan otot kaki yang terasa pegal akibat mengayuh sepedah seharian. Di sore harinya ia lebih sering duduk di samping depan tokoh yang menjual berbagai peralatan tulis. Mulailah ia menghitung berapa uang yang didapat dalam sehari, sekaligus menunggu barang kali masih ada orang-orang dermawan yang mau membeli sapu penyelamat hidupnya itu.

Jika dihitung-hitung dari penjualan sapu, Zairul sedikitnya mendapat Rp20.000 ribu atau paling banyak Rp50.000 ribu perhari. Maklum, dengan tenaga yang terbatas, sulit rasanya jika harus memaksakan diri mengayuh sepedah kesana kemari untuk menjual sapu. Orang-orang cenderung membeli alat pembersih rumah ditokoh yang lebih elit dan bersih daripada di pedagang tradisional seperti Zairul, banyak pelajaran hidup yang tanpa sadar terpancar dari kegigihan Zairul untuk terus bertahan hidup walau beban hidup selalu ada dan menantinya.

Dalam sebuah perbincanganya Zairul dengan Sumbartoday.com Selasa (6/11), bahwa saya sudah melakoni jualan sapu lidih keliling dari Tarusan sampai ke Kota Painan sudah 15 tahun, sedangkan istri saya sendiri sebagai pembuat makanan ringan seperti buat gorengan pisang, bakwan yang di titip kewarung yang ada di sekitar rumah,”ujarnya

hidup tidak perlu macam-macam lanjutnya, cobaan selalu ada, apalagi jika sudah tua, hidup hanya tinggal mengurus badan dan harus selalu ingat kepada Allah,” itulah kata-kata bijak yang terlontar dari bibir keringnya.

Sungguh, saya tak terbesit dalam hati ini untuk mengemis dijalanan seperti pengemis-pengemis muda nan kuat yang hanya mengandalkan belas kasihan orang lain. Kerja keras dan jiwa pantang menyerah itulah prinsip saya,”ungkapnya tegas

-Jebri candra-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *