Jadi Tersangka Makar, Kivlan Zein: Ada yang Ingin Saya Dipenjara

Category: Nasional, News 12 0
174723220140506-155955780x390
Mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zein

JAKARTA, SUMBARTODAY – Tersangka dugaan makar, Kivlan Zein, mengaku bingung mengapa dirinya bisa dijadikan ikut diciduk dan dijadikan tersangka oleh kepolisian. Padahal Kivlan mengaku konferensi pers di Hotel Sari Pan Pasific pada tanggal 1 Desember 2016 lalu, dirinya tidak hadir.

“Khusus untuk saya, disitu (surat penangkapan) disebutkan tanggal 1 (Desember 2016), tanggal 1 saya tanya ada statement Rachmawati minta ke DPR, yang di Hotel Sari Pan Pacific. Saya tidak terlibat, saya tidak hadir,” kata Kivlan saat audiensi dengan pimpinan DPR RI Fadli Zon di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Selasa (10/1/2017).

Kivlan pun mengaku menyesalkan tindakan kepolisian yang menuduhnya sebagai salah satu pelaku dugaan makar. Padahal, sebagai purnawirawan TNI dirinya juga bertugas untuk mengamankan negara. Dirinya juga menyebut bahwa pembebasan sandera Abu Sayyaf adalah upayanya dalam rangka membela negara.

“Sebagai purnawirawan saya menyesalkan tindakan kepolisian yang menuduh makar terhadap kita. Kemudian saya sebagai purnawirawan, saya tetap tentara, UU pertahanan menyebutkan para purnawirawan tentara nasional adalah tentara cadangan. Berarti hukum militer berlaku, tetapi saya ditangkap polisi. Saya merasa kehormatan saya dan kehormatan TNI dihapuskan dan dilecehkan,” ujar Kivlan.

Purnawirawan TNI berpangkat Mayjen itu juga menjelaskan apa sebenarnya definisi dari makar. Menurutnya, apa yang dirinya dan tujuh orang lainnya tidak dapat dipidanakan.

“Untuk definisi makar, kalau pasal 106, 107, 108, 109 dan pasal 110 tidak kena pada kita. Pertama karena melakukan pengkhianatan negara, menjual negara ini. Dua dilakukan dengan bersenjata. Kemudian pasal 10 ayat 4, kalau upaya merubah ketatanegaraan, kita ini kan menyatakan merubah ketatanegaraan kembali ke UUD ’45, tidak dikatakan makar, tidak dipidanakan,” papar Kivlan.

Dia merasa ada pihak yang menginginkannya untuk dipenjara karena terusik dengan sikap vokalnya selama ini. Bahkan dia menyinggung Menko Polhukam Wiranto sebagai orang yang menginginkan hal tersebut.

“Saya merasa ada pihak ingin saya masuk penjara, karena saya vokal. Mungkin boleh jadi, boleh jadi Wiranto. Ya boleh jadi, saya enggak nuduh. Wartawan boleh kutip boleh, sampaikan di tv enggak apa-apa,” tuturnya.

“(Kapolri Jenderal) Tito karnavian, (Kapolda Metro Jaya, Irjen) Iriawan, jangan takut sama saya. Saya tidak akan berontak untuk negeri ini. Saya akan bela sampai titik darah penghabisan (negara ini),” tutupnya.

sumber:detik.com

Related Articles

Add Comment