Genitnya Pundi-pundi Bank Nagari

oleh

 

SEPERTI ‘anekdot’ dan pituah minang tempo dulu,”Sajauah-jauah tabang bangau, inggoknyo kakubangan juo” (sejauh-jauh terbang bangau, hinggapnya kekubangan juga-red), mungkin ‘pituah’ itu yang pantas penulis cengkramkan dalam opini ini, melihat kenyataan yang ada, anomali para pejabat dan veteran pejabat Bank Nagari, maaf…. masih genit dan rakus’ mengeruk pundi-pundi bank ini.

Sejenak jadi berfikir, bak kesatria yang kalah dimedan perang, pulang kandang menundukan kepala, inilah catatan kusam bagi alumni pejabat bank ini. Tidak ada tempat untuk mendapatkan nasi, karena tidak mampu berkompetisi, akhirnya kekandang kembali pulang, berharap nasib jadi pemenang.

Kalah besaing didunia luar, para veteran ini kembali pulang, coba peruntungan di Bank Nagari, sebut saja Nazwar Nazir, Suryadi Asmi, Amrel Amir, Yonrival, Hamdani, Manar Fuadi, serta banyak lagi para veteran pejabat bank ini yang masih birahi dalam kontestasi jabatan Bank Nagari. Tidak peduli bermain sikut, ataupun menebar kemelut sang penjagal,  namun birahi kontestasi jabatan, tetaplah mejadi impian.  Ternyata genitnya saweran Bank Nagari masih menggoda veteran oligarki ini.

Harus diakui, mental pejabat bank ini, tak obahnya seperti pecundang dalam pertarungan, bak dewa dikandang sendiri, namun kecoa dalam gelanggang. Buktinya terlihat jelas, tidak perlu bankir hebat untuk memimpin bank ‘urang awak’ ini, cukup dengan seorang auditor bank tetangga, maka jadilah berjalannya kerajaan Monarki ini.

Tidak sampai disitu, bermental pecundang, para kaum monarki ini, kumpulkan tandatangan, hanya untuk menikam sang pemenang. Namun nasib berkata lain, pencundang, tetaplah pecundang, dan sang pemenang, tetaplah raja pemenang. Walau ditikam dari belakang, sang pemenang tetap legowo memberikan kasta bagi para pecundang. Nimat betul di Bank Nagari.

Kekuasaan Aristokrasi, sepertinya fundamental bagi bank ini, keputusan dipegang sekelompok orang yang berpengaruh. Bank tidak lagi menjadi lembaga kepercayaan, namun sudah menjadi lembaga kekuasaan. Siapa kuat dialah yang berkuasa. Tidak peduli akan kemakmuran bank ini, bahkan ribuan nasib karyawan yang ‘berjibaku’memupuk harap, tidak menikmati lagi kenaikan gaji, dipaksa bak pekerja romusa, hanya untuk kepentingan sang penguasa.

Tak peduli kusamnya seragam karyawan yang berharap sepiring nasi, yang penting nikmatnya ‘fee’ menjadi sumber inspirasi.  Tak peduli itu gratifikasi, yang penting nasi tidak untuk dibagi-bagi. Inilah keadilan bagi mereka yang serakah, maka jangan heran,  genitnya saweran bank ini, menjadi impian untuk terus berkompetisi, walau bermental banci, namun jabatan dibank sendiri, tentunya menjadi harga mati.

Sudah barang murahan jika penulis paparkan dalam opini ini. Tersandera antara satu dengan yang lainnya, membuat para veteran bank ini pulang kandang, saling sikut demi kontestasi jabatan. Tak obahnya seperti perilaku monyet, dapat dalam mulut, tangan kanan masih menyambar, dapat tangan kanan, tangan kiripun ikut berebut, kaki kanan mencengkram, kaki kiripun asyik mengais. Tak peduli teman atau sahabat, yang penting jabatan hebat. Hmmmm…… inilah potret buram bank nagari.

Masih segar dari ingatan penulis, tentang kasus-kasus dasyat yang menghimpit bank ini, yang mana para tokoh dan pelakunya tersandara antara satu dengan yang lainnya. Bahkan menjadi lumbung, bagi oknum-oknum penegak keadilan negeri ini. Maka kepedulian akan kemajuan bank tidak lagi menjadi landasan. Tahta dan jabatan adalah segala-galanya. Tidak ada nikmat hidup selain di Bank Nagari, mungkin itu motto mereka.

Masing-masing kekuasaan sudah menikmati permainannya, berbagai akal dicurahkan demi menipu kepentingan, jalan-jalan keluar negeri, serta bangga bermain golf,  dengan kemampuan pas-pasan dan murahan, bagi mereka itu hanya hal biasa, yang penting dapat kudapan, biarlah dicaci teman yang penting aman. Seperti halnya pejabat direktur Kredit dan Syariah, walau sudah dibatasi kewenangan, tanpa malu masih tetap menikmati  fasilitas yang diiginkan.Tapi tidaklah mengherankan, karena itulah BANK NAGARI….. horeeee….

Ada lagi cerita seru yang menggelitik telinga penulis, seorang pejabat veteran bank ini, dengan mudah mendapatkan kesempatan anaknya bekerja pada bank nagari. Bermodalkan secuil ancaman akan membongkar semua kasus bank nagari jika tidak menerima anaknya bekerja, menjadi legenda unik sejarah bank ini.“simbiosis mutualisme, hahahaaaa….. barter menguntungkan!!!

Lebih dasyat dan langkanya lagi, pejabat yang sudah veteran, merengek meminta diperpanjang jabatan, dengan nada dan ancaman yang sama dan meminta segalah hak dan fasilitasnya, jadi janganlah putus asa wahai para pejabat, siapkan kartu ‘truf’mu maka selamatlah karirmu….. hahaahaah

Namun untuk hal tersebut tidak berlaku bagi yang tidak punya gigi, walau segudang prestasi, anda tetap mati suri. Jabatan dibagi-bagi hanya untuk siapa yang membawa sebungkus kopi kemeja pribadi. Alsintan 9 miliar, PT. Langgeng Giri Bumi 12 miliar, KUD Talu 18 miliar, PT. Chiko 22,7 miliar, Nick Munandar 5 miliar dan PT. Anbama/Indeco 5 miliar, serta banyak lagi kasus-kasus lainnya, sebagai bukti, pertaruhan nakalnya pejabat ini, untuk menggerus pundi-pundi Bank Nagari demi untuk kepentingan pribadi, jalan-jalan keluar negeri dengan hasil mencuri, berkedok seperti nabi, namun nyali seperti banci, inilah standar jika ingin menjadi pejabat di Bank Nagari.

Dibalik segelintir kasus-kasus tersebut, ada satu yang butuh perhatian khusus terhadap kredit yang dikucurkan kepada Hotel Asrilia Bandung yang mencapai nilai 110 miliar, “Ini berpotensi kredit macet, jika macet, maka kiamatlah bank nagari” ucap sumber bank ini kepada penulis.

“Jika kredit dikucurkan dan terbilang lancar , maka pihak bank harus mencadangkan dana sebesar 1 persen dari total pinjaman, namuan jika kredit tersebut macet, maka harus dicadangkan 100 persen dari total pinjaman. Jadi bayangkan saja jika kerdit macet tersebut mencapai  puluhan miliar, maka bank harus mempersiapkan juga dana cadangannya sebanyak puluhan miliar, demi untuk menutup kerugian, yang pada akhirnya bermuara dengan tergerusnya laba bank, dan cerita ini sudah terjadi di bank nagari, laba tidak tercapai,  maka dana cadanganlah yang menjadi sasaran, agar bank terlihat sehat dan mencapai laba,” kutipan dari ekonom tadi…. heeheeee

Oooo.. begitu, miris memang atas keberanian para pejabat bank ini dalam pencapaian laba.  Berani dan memaksa, hanya demi laporan pencapaian laba, hingga majalah Info bankpun mengakui pertumbuhan Bank Nagari ini cukup signifikan. Namun mereka lupa atau mungkin pura-pura lupa, dana cadangan untuk kredit macet, mereka sikat demi menutupi kerugian bank. Barulah setelah laporan disampaikan hasilnya dibagi-bagi kekantong para saudagar, maka dana cadangan dikembalikan lagi tanpa peduli bank merugi.

Ini perbuatan gila dan sangat berani. Mungkinkah OJK tutup mata, atau mungkin main mata, jawabnya entahlah, yang jelas para saudagar-saudagar Bank Nagari sudah memiliki pundi-pundi pribadi dan akan menikmatinya hingga akhir nanti.

Tiada kata yang bisa penulis cerca, selain kata prihatin dengan keadaan bank urang awak ini. Wahai para penguasa Bank Nagari, Sudahlah, nikmati apa adanya, hentikanlah bermanuver dilembaga kepercayaan ini, Pejabat bank bukanlah pejahat, fikirkanlah nasib ribuan karyawan yang menggantungkan hidup pada bank ini, serta masyarakat yang menaruh harap, Jangan jadikan jabatan sebagi kekuasaan, ingatlah jabatan hanya amanah, selamatkan bank ini, jangan pertahankan oligarki. Karena setiap perbuatan dan penzaliman, natinya akan dimita pertanggung jawaban, BRAVO BANK NAGARI…..

FIZASKY ZAKIER
Pemimpin Redaksi

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *