Diduga Provokasi, “Edi Cotok” Akhirnya….

oleh -0 views

SUMBARTODAY.COM, SOLOK  — Diduga melalukan provokasi, Yuzarwedi alias Edi Cotok serta Ayu Dasril Alias Ayu  dijerat pasal pasal 187 jo 160 jo 170 jo 406 KUHP. Sementara terdakwa lainnya Hendra alias Kacak dijerat dengan Pasal 187 jo 170 jo 406.

Pembacaan dakwaan tersebut dilakukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada sidang perdana kasus pembakaran mobil operasional PT. Hitay Daya Energi  di Pengadilan Negeri Koto Baru Solok, Selasa (17/4)

Sidang yang dipimpin oleh hakim ketua Devri Andri dan dua hakim anggota ini mengangendakan bacaan dakwaan oleh tim Jaksa Penuntut Umum (JPU)

Dalam dakwaannya, JPU  yang diwakili oleh Kasi Pidum Kejari Solok Hartono mengatakan terdakwa Hendra alias Kacak terlibat dalam aksi penggulingan mobil serta ikut membakarnya.

Sementara dua terdakwa lainnya Ayu Dasril Alias Ayu dan Yuzarwedi alias Edi Cotok didakwa berperan dalam memprovokasi atau penganjur masyarakat untuk melakukan pengrusakan dan pembakaran mobil.

“Ini baru sidang perdana, dari persidangan tadi, kami dari JPU menerapkan pasal alternatif, semua pasal yang kita dakwakan dibuktikan nanti dalam persidangan, berdasarkan fakta persidangan nanti itulah pasal yang kita tuntut,” sebut Hartono.

Terdakwa Hendra alias Kacak dijerat dengan Pasal 187 jo 170 jo 406 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dengan ancaman maksimal 12 tahun. Sementara itu terdakwa Ayu Dasril Alias Ayu dan Yuzarwedi alias Edi Cotok dijerat dengan pasal 187 jo 160 jo 170 jo 406 KUHP.

Sementara itu, Wendra Rona Putra, Penasehat hukum ketiga terdakwa dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang, mengatakan bahwa pihaknya akan memberikan pembelaan dan mengawal sidang terhadap tiga orang kliennya yang didakwa terlibat dalam aksi protes yang berujung pada pembakaran mobil.

Pihaknya berencana akan menyampaikan bantahan atau eksepsi pada sidang lanjutan yang diagendakan pada Selasa (24/4) mendatang. Menurutnya, sebetulnya yang disasar itu bukanlah pelaku pembakaran tapi lebih kepada orang-orang yang sedari awal berinisiatif memprotes pembangunan proyek geothermal di kawasan tersebut.

“Terdakwa ini merupakan orang yang mengorganisir masyarakat dan mendesak pemerintah untuk transparan dan secara terbuka memberikan informasi kepada masyarakat secara luas, tidak saja yang manisnya tapi juga dampak dan sejauh mana tanggungjawab pemerintah terhadap hal itu,” sebut Wendra. (Debi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *