Di Tanah Datar, Ikan Larangan Dapat Hidup Kembali, Jika ……

Category: Seni & Budaya 9 0

ikan-larangan-2

TANAHDATAR, SUMBARTODAY – Ada mitos dibalik himbaun untuk tidak mengambil Ikan larangan, hal yang kurang baik akan menimpa si pelaku yang berani melanggar pantangan dan mengambil Ikan Larangan tersebut di Sumatera Barat.

Konon bermacam-macam penyakit dan kejadian aneh bisa timbul jika ada yang berani mengambil Ikan Larangan. Pelaku yang memakan ikan tersebut diyakini bisa terkena musibah, sakit aneh, perut menjadi buncit.  Hal yang paling aneh lagi, Ikan larangan dapat hidup kembali dimasukan kedalam penggorengan dan kembali kekolam tempat ikan berasal.

Meskipun fakta atau mitos,  yang jelas tradisi ikan larangan, masih banyak terdapat didaerah Sumatera Barat ini. Seperti halnya di Jorong Bukik Gombak, Kecamatan Limo Kaum, Kabupaten Tanah Datar. Tradisi ikan larangan ini masih ditemukan dengan kearifan budaya lokal. Menurut Sayaiful (77) warga Jorong Bukik Gombak, yang tinggal disekitar lokasi Ikan larangan menjelaskan bahwa,  “Yakin atau tidak yakin, sejauh apapun Ikan pergi mencari makan, Ikan yang sudah jadi larangan ini akan tetap kembali ketempat semula dilepaskan, yang pasti jangan coba-coba mengambil atau menangkap Ikan, kita bisa mendapat musibah,” ucap Syaiful kepada sumbartoday.com

Namun terlepas dari mitos tersebut, Ikan larangan sebenarnya dapat dikonsumsi, namun cara penangkapannya harus sesuai dengan hari yang sudah disepakati oleh masyarakat tentang keberadaan ikan larangan tersebut. Jika hari yang sudah ditentukan itu tiba, seperti hari-hari besar agama Islam, barulah ikan larangan dipanen.

Hebatnya dari tradisi panen ikan larangan ini, disamping boleh mengambil, panen ikan larangan ini juga dijual yang hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat yang membuat ikan larangan tersebut. Seperti pembangunan surau atau musholla. Seperti halnya pengalaman Datauk (59) warga Kecamatan Limo Kaum, semasa kecil yang tinggal di Surau, “Ikan larangan merupakan tabungan bagi Surau tempat kami mengaji, jika panen tiba, semua siswa laki-laki dilibatkan untuk memanen Ikan, serta menjualnya kepada  warga sekitar surau yang  sudah mengantri untuk membeli.  Sementara keuntungan dari hasil penjualan sepenuhnya akan diperuntukan bagi pembangunan dan pengembangan Surau,” kenang Pak Datuk.

Inilah hebatnya masyarakat  Minangkabau, Sumatera Barat. Dengan tradisi dan budaya, Mitos atau Fakta tentang risiko bagi yang mengambil ikan larangan, namun teselip pelajaran berharga agar tetap menjaga nilai-nilai kebersamaan tanpa harus serakah. Dengan nilai positif yang diwariskan leluhur terdahulu, hendaknya dijaga kuat oleh masyarakat minang, selagi tidak berbenturan dengan nilai agama.  (Adi)

 

Related Articles

Add Comment

%d blogger menyukai ini: