Cerita Puncak Pas yang Kurang Pas

oleh

TANAH DATAR, SUMBARTODAY – Biar kampung tidak celaka dan mendapat musibah, lepaskan saja harimau disekitar puncak pas itu, agar muda-mudi yang mengunjugi tempat tesebut, yang sering kali berbuat maksiat, tidak lagi berani mengunjunginya, saran Pak Haji (70), yang duduk disamping penulis, didalam mobil travel dari Kota Padang menuju Batusangkar Kabupaten Tanah Datar.

Sedikit kaget dan terdengar aneh ide spontan yang disampaikan Pak Haji ini, penulispun menjadi bingung, apa hubungannya Harimau dan muda-mudi. Namun setelah Pak Haji bercerita panjang lebar tentang sebuah objek wisata bukit Shaduali atau Puncak Pas yang menjulang di tepian jalan raya Batusangkar- Ombilin dan terletak 7 km dari pusat Kota Batusangkar ibukota Kabupaten Tanah Datar, tepatnya di Jorong Panti dan Jorong Pabalutan, Nagari Rambatan, Kecamtan Rambatan ini, barulah penulis paham tentang pemikiran Pak Haji yang sedikit seram seram ini, maklumlah pemahaman penulis akan objek wisata Puncak Pas tersebut belumlah banyak, sebab penulis beraktifitas di kota Padang, hanya saja setiap akhir pekan penulis mengunjungi Tanah Datar, sebab keluarga menetap di “Luak Nan Tuo” ini

Rutinitas mingguan pulang pergi dari Kota Padang ke Kabupaten Tanah Datar hampir setahun ini penulis jalani, maklum, baru baranak ketek (baru punya momongan-red). Kepiawaian sopir travel yang sedikit ‘galetek’ (usil-red), mengusik ide Pak Haji, hingga diskusi sopir dan penumpang ini, memancing tawa bagi penumpang travel ini, hingga rasa kantukpun hilang seketika.

Dasar ‘Tukang Cukia’ (Pemancing Cerita-red), sang sopirpun berhasil menguras ide Pak Haji yang sering kesal dan pemarah ini.

Sebenarnya penulis ingin tertawa mendengar solusi yang disampaikan pak Haji, tapi ada benarnya juga setelah dipikir-pikir. “Kelakuan muda-mudi di Puncak Pas, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar ini, memang sudah keterlaluan dan sudah tidak rahasia umum lagi,” sambung pengemudi travel.

Mako ka rancak jalan, mako cilako kampuang awak! Rancak dulu lai, alun ado jalan, tapi kampuang indak cilako! Ucap pak Haji memotong ucapan pengemudi travel.

Indahnya pemandangan Danau Singkarak dari atas puncak pas memang memanjakan mata. Sayangnya, tempat yang memang masih sepi ini, sering dijadikan tempat nongkrong bagi muda-mudi dan tanpa pengawalan.

Perilaku muda-mudi inilah yang menjadi bahan cerita sepanjang perjalanan, sampai-sampai pak Haji menyarankan untuk melepaskan harimau disekitar puncak pas untuk mengusir muda-mudi yang berbuat asusila di kampungnya. Jika masih manusia yang disuruh menertipkan, mereka tidak akan takut, suruh saja harimau, pasti mereka ketakutan. “Harimaunya yang peliharaan atau yang liar pak?” Tanya si pengemudi. Yang liar lah! Biar dimakan semua, jawab pak haji.

Benar juga kata orang bijak, “Jika yang tua enggan menegur, maka yang muda akan makin kurang ajar.” Orang tua atau ninik mamak harus turun tangan, supaya tidak celaka kampung. Sudah tidak berani lagi sekarang yang tua-tua marah, makanya yang muda semakin menjadi-jadi kelakuannya.

Terlepas dari hariamu yang mau dilepas oleh pak Haji, lokasi Puncak Pas jika dikelola dengan baik, sepertinya bisa menjadi destinasi baru bagi wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Tanah Datar. Pemandangan Danau Singkarak dari ketinggian memang memiliki sensasi tersendiri.

Cerita penumpang dan pengemudi berlanjut kepada kekaguman terhadap ilmu yang dimiliki oleh Dr Zakir Naik, si ahli Kristologi atau ilmu tentang perbandingan agama dan Pilkada Jakarta yang panas kemarin. Maklum, di Minangkabau, ujung-ujung bahasan tidak akan terlepas dari agama.

Kurang beruntung bagi saya, travel sudah sampai di alamat dan harus segara turun. Saya tidak mengikuti pembahasan Dr Zakir Naik.

Bagi pengunjung yang penasaran dengan Puncak Pas, silahkan berkunjung dan atur jadwal. Segera sahabat, sebelum pak Haji benar-benar melepas harimau kesana!

Catatan Adi Prima
Redaktur media online sumbartoday.com

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *