Bangun Tambang Geothermal, Pemkab Solok Abaikan Amdal

Category: Daerah, News 193 0

 

Kawasan Gunung Ijen Jawa Timur, mengalami kekurangan air disebabkan penurunan permukaan tanah dalam jangka panjang, akibat aktifitas tambang Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi atau Geothermal.

SOLOK, SUMBARTODAY – Prokontra ditengah masyarakat makin memanas terkait akan dilaksanakannya aktifitas pengeboran untuk pemanfaatan panas bumi di Nagari Batu Bajanjang, Kecamatan  Lembang Jaya, Kabupaten  Solok.

Ada yang mendukung dan banyak juga yang menolak aktifitas ini. Berbagai alasan pun mencuat dari banyak masyasakat ini. Mereka yang mendukung mengaku banyak keuntungan akan aktifitas ini, selain untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, keterbukaan lapangan kerja juga suatu hal positif bagi mereka. Namun bagi mereka yang menolak, hal ini malah akan menjadi bencana bagi anak cucunya nanti.

Beberapa masyarakat yang menolak aktifitas ini kepada sumbartoday.com beberapa waktu lalu mengungkapkan kekhawatiran mereka di Nagari Batu Bajanjang yang merupakan pusat aktifitas ini akan dilaksanakan.

“Kami tak ingin negeri kami seperti bekas pengeboran panas bumi yang ada di Mataloko, NTT sana. Kami disini hidup dari hasil pertanian, jika tanah kami rusak maka kami akan hidup dengan apa?”, keluh mereka sambil bertanya.

Selain itu mereka juga menyayangkan para pengambil keputusan yang melegalkan ini tanpa ada penelitian terlebih dahulu.

” Jika mereka (Pejabat/ PNS) enak, walaupun tanah ini rusak, gaji mereka tetap mengalir tiap bulan. Sementara kami, jika tanah ini rusak, kami hrus hidup dari mana lagi”, keluh masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai petani ini.

Masyarakat Nagari Batu Bajanjang sendiri banyak tau akibat dari aktifitas ini dari beberapa media yang menayangkan kejadian di Mataloko, Kec. Golewa, Kab. Ngada – NTT.

Menurut mereka, kegagalan pemanfaatan panas bumi disana berdampak sangat besar, yang terparah adalah rusaknya area pertanian akibat semburan lumpur panas yang timbul dari berbagai banyak lubang akibat dari aktifitas ini. Selain itu, tingkat kesuburan tanah pun jauh menurun, hingga mengakibatkan hasil pertanian mereka tidak dapat dimanfaatkan. Kemudian beberapa keluhan penyakit hingga rusaknya atap rumah warga didaerah Mataloko itu.

Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang dikatakan pihak PT Hitay Daya Energy beberapa waktu lalu kepada media. Pihak perusahaan yang menjadi pemenang tender ini mengatakan bahwa aktifitas mereka ini tidak berdampak terhadap lingkungan.

Diwaktu berbeda, saat hal ini dikonfirmasi langsung kepada Herman Hakim selaku Kasi Andal kantor lingkungan hidup Kab. Solok. Herman mengatakan bahwa KLH Kab. Solok belum melakukan pengecekan dan kajian terhadap dampak lingkungan.

” Kita belum melakukan kajian sejauh itu. Saat ini kita baru mengecek dampak sosial dan Ekonomi masyarakat dengan melakukan wawancara bersama masyarakat”, ungkapnya kepada sumbartoday.com, Selasa (15/8) siang di ruangan kerjanya.

Salah satu dampak dari aktifitas pengeboran akan menyebapkan gempa minor yang guncangannya dibawah 5 Skala Richter, ini disampaikan oleh salah satu aktifis lingkungan seperti yang diberitakan sumbartoday.com sebelumnya. Hal ini juga ditanyakan kepada Herman terkait kebenarannya, namun Herman mengatakan belum mengikutkan orang geologi dalam surfei beberapa waktu lalu.

“Untuk itu kami belum tau, sebap dalam tim yang dibentuk untuk pengecekan sebelumnya, belum ada orang geologi yang terlibat”, ungkapnya.

Melihat hal ini, Guru besar Universitas Andalas (UNAND) pakar ilmu tanah dan air juga ikut berkomentar. Prof,Dr,Ir, Bujang Rusman, MS, kepada sumbartoday.com, disalah satu Hotel usai pertemuan dengan WALHI Sumbar mengatakan, bahwa pemerintah harus berhati – hati mengeluarkan izinnya. Ia juga mengatakan bahwa dampak lingkungan harus diprioritaskan.

” Pemerintah harus hati-hati dalam pengeluaran izinnya. Dampak lingkungan harus menjadi hal terpenting untuk mereka perhatikan”, ungkapnya.

Pakar ilmu tanah dan air ini juga mengatakan bahwa pemerintah harus berkaca terhadap apa yang telah yerjadi di Mataloko.

“Meski saya belum melakukan penelitian secara langsung terhadap masalah ini, namun saya berharap pemerintah agar berkaca terhadap apa yang yerjadi di Mataloko sana”, tambahnya.

Hingga saat ini sebavian besar masyarakat masih melakukan penolakan terhadap aktifitas ini. Mereka juga khawatir jika pengeboran ini akan memicu aktifitas Gunung Talang yang saat ini menjadi salah satu gunung api yang masih aktif di Indonesia. (Tirta)

 

 

 

Related Articles

Add Comment